}

Saturday, 11 April 2015

Psikologi Humanistik dan Aplikasinya dalam Pendidikan repost by Kumala Sari



Psikologi Humanistik dan Aplikasinya dalam Pendidikan
Oleh Ratna Syifa’a Rachmahana
Dosen Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII Yogyakarta.
           
            Jurnal yang berjudul Psikologi Humanistik dan Aplikasiknya dalam pendidikan yang ditulis oleh seorang Dosen Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII Yogyakarta yaitu  Ratna Syifa’a Rachmahan membahas tentang psikologi humanistic dan aplikasinya dalam pendidikan.
 Psikologi humanistik atau psikologi kemanusiaan merupakan suatu pendekatan yang multifaset terhadap pengalaman dan tingkahlaku manusia, yang memusatkan perhatian pada keunikan dan aktualisasi diri manusia. Psikologi humanistik memberikan sumbangannya bagi pendidikan alternatif yang dikenal dengan sebutan pendidikan humanistik (humanistic education).
            Pendidikan Humanistik berusaha mengembangkan individu secara keseluruhan melalui pembelajaran nyata. Pengembangan aspek emosional, sosial, mental, dan keterampilan dalam berkarier menjadi fokus dalam model pendidikan humanistic. Aliran ini muncul pada tahun 1940-an yang merupaka reaksi terhadap pendekatan psikoanalisa dan behavioristik.
            Pendidikan Humanistic dipelopori oleh Abraham H. Maslow yang merupakan tokoh yang menonjol dalam psikologi humanistik. Maslow mengatakan bahwa dalam diri manusia terdapat dorongan positif untuk tumbuh dan kekuatan-kekuatan yang melawan atau menghalangi pertumbuhan.
Bermula dari memenuhi semua kebutuhan yang tingkatannya lebih rendah, kemudian motivasi lalu diarahkan kepada terpenuhinya kebutuhan aktualisasi diri, lalu kebutuhan untuk
tahu dan mengerti, yakni dorongan untuk mencari tahu, memperoleh ilmu dan pemahaman. Sesudahnya, Maslow berpendapat adanya kebutuhan estetis, yakni dorongan keindahan, dalam arti kebutuhan akan keteraturan, kesimetrisan dan kelengkapan.
Maslow membedakan antara empat kebutuhan yang pertama dengan tiga kebutuhan yang kemudian. Keempat kebutuhan yang pertama disebutnya deficiency need (kebutuhan yang timbul karena kekurangan), dan pemenuhan kebutuhan ini pada umumnyabergantung pada orang lain. Sedangkan ketiga kebutuhan yanglain dinamakan growth need (kebutuhan untuk tumbuh) dan
pemenuhannya lebih bergantung pada manusia itu sendiri.
            Implikasi dalam dunia pendidikan bahwa guru harus mencari tahu penyebab siswa tidak melakukan tugas pekerjaan rumah, membuat keributan di dalam kelas atau anak tidak memiliki motivasi atau malas belajar di kelas. Maka, dalam pendekatan teori ini kita sebagai seorang guru harus menyadari bahwa ada beberapa kebutuhan siswa yang mungkin tidak terpenuhi
Carl R. Rogers yang mengungkapkan tentang hasrat untuk belajar, belajar yang berarti, belajar tanpa ancaman, belajar atas inisiatif sendiri, dan belajar untuk perubahan (Rumini,dkk. 1993). Arthur Combs tentang perasaan, persepsi, keyakinan dan maksud merupakan perilaku-perilaku batiniah yang menyebabkan seseorang berbeda dengan yang lain. Agar dapat memahami orang lain, seseorang harus melihat dunia orang lain tersebut, bagaimana ia berpikir dan merasa tentang dirinya. Itulah sebabnya, untuk mengubah perilaku orang lain, seseorang harus mengubah persepsinya.
Aldous Huxley Manusia memiliki banyak potensi yang selama ini banyak terpendam dan disia-siakan. Pendidikan diharapkan mampu membantu manusia dalam mengembangkan potensi-potensi tersebut, oleh karena itu kurikulum dalam proses pendidikan harus berorientasi pada pengembangan potensi, dan ini melibatkan semua pihak, seperti guru, murid maupun para pemerhati ataupun peneliti dan perencana pendidikan. Huxley (Roberts, 1975) menekankan adanya pendidikan non-verbal yang juga harus diajarkan kepada siswa Proses pendidikan non verbal seyogyanya dimulai sejak usia dini
sampai tingkat tinggi.
David Mills dan Stanley Scher (Roberts, 1975) mengajukan konsep pendidikan terpadu, yakni proses pendidikan yang mengikutsertakan afeksi atau perasaan murid dalam belajar. Penggunaan pendekatan terpadu ini dilakukan dalam pembelajaran IPA, pendidikan bisnis dan bahkan otomotif.

Aplikasi Aliran Humanistik Dalam Pendidikan
Aplikasi  aliran Humanistik dalam proses pembelajaran diantaranya.
1. Open Education atau Pendidikan Terbuka
Pendidikan Terbuka adalah proses pendidikan yang memberikan kesempatan kepada murid untuk bergerak secara bebas di sekitar kelas dan memilih aktivitas belajar mereka sendiri. Guru hanya berperan sebagai pembimbing. Perlu untuk diketahui, bahwa penelitian tentang efektivitas model ini menunjukkan adanya perbedaan dengan proses pendidikan tradisional dalam hal kreativitas, dorongan berprestasi, kebebasan dan hasil-hasil yang bersifat afektif secara lebih baik. Akan tetapi dari segi pencapaian prestasi belajar akademik, pengajaran tradisional lebih berhasil dibandingkan poses pendidikan terbuka ini.
2. Cooperative Learning atau Belajar Kooperatif
Belajar kooperatif merupakan fondasi yang baik untuk meningkatkan dorongan berprestasi murid. Dalam prakteknya, belajar kooperatif memiliki tiga karakteristi; murid bekerja dalam tim-tim belajar yang kecil (4 – 6 orang anggota), murid didorong untuk saling membantu dalam mempelajari bahan yang bersifat akademik dan melakukannya secara berkelompok dan murid diberi imbalan atau hadiah atas dasar prestasi kelompok.
Adapun teknik-teknik dalam belajar koperatif ini ada 4 (empat) macam, yakni : Team-Games-Tournament, Students Teams- Achievement Divisions, Jigsaw, dan Group Investigation
3. Independent Learning (Pembelajaran Mandiri)
Pembelajaran Mandiri adalah proses pembelajaran yang menuntut murid menjadi subjek yang harus merancang, mengatur dan mengontrol kegiatan mereka sendiri secara bertanggung jawab. Proses ini tidak bergantung pada subjek maupun metode instruksional, melainkan kepada siapa yang belajar (murid), mencakup siapa yang memutuskan tentang apa yang akan dipelajari, siapa yang harus mempelajari sesuatu hal, metode dan sumber apa saja yang akan digunakan, dan bagaimana cara mengukur keberhasilan upaya belajar yang telah dilaksanakan (Lowry, dalamHarsono, 2007).
Dalam pelaksanaannya, proses ini cocok untuk pembelajaran di tingkat atau level perguruan tinggi, karena menuntut kemandirian yang tinggi dari peserta didik. Di sini pendidik beralih fungsi menjadi fasilitator proses belajar.
4.Student Centered Learning (Belajar yang Terpusat pada Siswa)
Student Centered Learning atau disingkat SCL merupakan strategi pembelajaran yang menempatkan peserta didik secara aktif dan mandiri, serta bertanggung jawab atas pembelajaran yang dilakukan. Dengan SCL peserta diharapkan mampu mengembangkan ketrampilan berpikir secara kritis, mengembangkan system dukungan social untuk pembelajaran mereka, mampu memilih gayabelajar yang paling efektif dan diharapkan menjadi  life-long learner dan memiliki jiwa entrepreneur .Adapun metode-metode SCL antara lain : Cooperative Learning (Pembelajaran Kooperatif); mahasiswa belajar dari dan dengan teman-temannya untuk mencapai suatu tujuan belajar dengan secara penuh bertanggung jawab atas hasil pembelajaran yang dicapai.  Collaborative Learning (Pembelajaran Kolaboratif); Prinsip dari Pembelajaran Kolaboratif adalah bahwa pembelajaran merupakan proses yang aktif. Competitive Learning (Pembelajaran Kompetitif) Prinsip pembelajaran ini adalah memfasilitasi mahasiswa saling
berkompetisi dengan temannya untuk mencapai hasil terbaik. Case Based Learning (Pembelajaran Berdasar Kasus); Prinsip dasar dari metode ini adalah memfasilitasi mahasiswa
untuk menguasai konsep dan menerapkannya dalam praktek nyata.
            Psikologi humanistik sangat relevan dengan dunia pendidikan, karena aliran ini selalu mendorong peningkatan kualitas diri manusia melalui penghargaannya terhadap potensi-potensi positif yang ada pada setiap insan. Seiring dengan perubahan dan tuntutan zaman, proses pendidikan pun senantiasa berubah. Dengan adanya perubahan dalam strategi pendidikan dari waktu ke waktu, humanistic memberikan arahan pendidikan yang signifikan.

0 comments:

Post a Comment