}

Saturday, 11 April 2015

TEORI ILMIAH TUGAS FILSAFAT



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Teori ilmiah yang cukup fenomenal di dunia sains yaitu Teori Evolusi Darwin yang mengemukakan bahwa nenek  moyang  manusia berasal dari kera. Perdebatan pun tidak bisa di hindari beberapa ilmuan yang menentang pernyataan tersebut melakukan argumentasi yang berlawanan dengan Teori Darwin. Perdebatan tersebut masih hangat diperbincangkan  hingga  saat ini, bahkan  teori tersebut menjadi cermin bagi para peneliti untuk melahirkan teori-teori baru. Perjalan sebuah teori ilmiah akan selalu menarik untuk dibahas dan diperbincangkan selama kehidupan terus berjalan. Maka selama itu pula sebuah teori ilmiah akan terus bergerak dan berkembang.
Pergulatan sebuah pemikiran yang memunculkan sebuah ide atau teori hanya bisa dilakukan oleh seorang pemikir atau orang yang menggunakan akalnya. Dimana di dalam Al Qur’an sering disebutkan “ afalaa ta’qilun”, “afalaa tatafakkarun”, “afala yatadabbarun” dimana esensi dari kalimat tersebut adalah ajakan  untuk berfikir dan menggunakan akal.
Penciptaan manusia yang di mulai dari makhluk yang bernama Adam diberikan Akal oleh  Tuhan (Allah swt)  untuk mengemban visi Khalifah Fil Ardh (pemimpin di muka bumi). Keberadaan akal mengindikasikan bahwa manusia itu dituntut untuk berpikir sebagai sarana untuk keberlangsungan hidup mereka. Perjalanan hidup manusia yang berinteraksi dan berkompromi dengan fenomena-fenomea alam memaksa manusia melakukan penelitian-penelitian  dan eksperimen atas gejala-gejala yang ada. Hal itu berlangsung secara terus-menerus untuk memahami dari gejala tersebut yang  pada akhirnya menghasilkan sebuah kesimpulan. Selanjutnya lahirlah sebuah teori, kemudian mengalami perkembangan dan mengalami pergulatan pemikiran diantara para peneliti.
Perbedaan-perbedaan tersebut lahir karena perbedaan kapasitas pemirikan dari setiap subjek peneliti dalam melihat sebuah masalah. Aktifitas berpikir yang ditunjang dengan penelitian dan  eksperimen akan melahirkan sebuah teori untuk keberlangsungan hidup mereka yang kemudian mengalami perubahan dan  melahirkan sebuah teknologi dalam kehidupan manusia. Kehadiran teknologi merubah pola hidup manusia yang memberikan pengaruh  dan dampak terhadap alam. Perubahan alam akibat  pengaruh teknologi akan menuntut lahirnya sebuah teori baru yang kemudian bisa menggoyakan teori sebelumnya seperti teori Evolusi Darwin.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskan permasalahan yang akan dibahas yaitu:
1.      Apa yang dimaksud dengan teori ilmiah?
2.      Apa dasar dari teori ilmiah?

C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1.      Untuk mengetahui apa pengertian teori ilmiah
2.      Untuk mengetahui dasar teori ilmiah

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Teori Ilmiah
1.      Pengertian Teori
Kata ‘teori’ berasal dari kata theoria dalam bahasa Latin  berarti” perenungan”, dan juga berasal dari kata thea dalam bahasa Yunani yang berarti “cara atau hasil pandang”; yang merupakan  suatu konstruksi di alam ide imajinatif.  Dari kata dasar thea ini, kata modern “teater” yang berarti “pertunjukan” atau tontonan” manusia tentang realitas-realitas yang ia jumpai dalam  pengalaman hidupnya. Adapun yang disebut pengalaman  tidak hanya pengalaman yang diperoleh manusia dari alam kehidupannya yang indrawi, tetapi juga diperoleh dari alam kontemplatif-imajinatifnya.
Teori merupakan pengetahuan ilmiah mencakup penjelasan mengenai suatu sektor tertentu dari suatu disiplin ilmu dan dianggap benar. Teori biasanya terdiri dari hukum-hukun, yaitu pernyataan (statement) yang menjelaskan  hubungan kausal antara dua variable atau lebih . Teori memerlukan tingkat keumuman yang tinggi, yaitu bersifat universal supaya lebih berfungsi sebagai teori ilmiah.(Suwardi: 2012)
Dalam beberapa kamus, kata teori didefinisikan sebagai (1) pendapat yang didasarkan pada penelitian dan penemuan, didukung oleh data dan argumentasi. (2) penyelidikan eksperimental yg mampu menghasilkan fakta berdasarkan ilmu pasti, logika, metodologi, argumentasi. (3) asas dan hukum umum yg menjadi dasar suatu kesenian atau ilmu pengetahuan. (4) pendapat, cara, dan aturan untuk melakukan sesuatu. (Tim redaksi, 2008: 1684).
Dalam kamus ilmiah, teori itu adalah dalil (ilmu pasti); ajaran atau paham (pandangan) tentang sesuatu berdasarkan kekuatan akal (ratio); patokan dasar atau garis-garis dasar sains dan ilmu pengetahuan. Sedangkan Menurut Labovitz dan Hagedorn (dalam referensi makalah, 2008) “What is a Scientific Theory?” mendefinisikan teori sebagai ide pemikiran “pemikiran teoritis” yang artinya  “menentukan” bagaimana dan mengapa variable-variabel dan pernyataan hubungan dapat saling berhubungan.
Menurut Kerlinger teori adalah  ”A theory is a set of interrelated constructs (concept), definition, and proposisi that present a systematic view of fhenomena by specifying relation among variables, with the purpose of explanation and predicting of the phenomena.  Dengnan kata lain teori adalah seperangkat konstruk yang saling terkait (konsep), definisi, dan dalil (rancangan usulan) yang menyajikan pandangan sistematis fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel dengan penjelasan dan memprediksi terjadinya sebuah fenomena.
Sementara itu menurut Jhonson, teori adalah seperangkat pernyataan (dan definisi dari sistem klasifikasi) yang disusun secara sistematik. Sedangkan Rudner dari kaum positivistik, mengemukakan teori adalah seperangkat pernyataan yang secara sistematis saling berkaitan.
Dengan demikian, berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas, maka dapat disimpulkan teori adalah  ide pemikiran yang bersifat teoritis yang terdiri dari variabel yang saling berhubungan yang diperoleh dari alam kehidupan baik indrawi maupun alam kontemplatif-imajinatif. Hal yang perlu kita garis bawahi adalah bahwa para ahli bersepakat bahwa sebuah teori  terdiri dari beberapa hal yaitu, ada gejala yang diamati, pada gejala tersebut ada hubungan yang logis dan sistematis, ada generalisasi analisis deduktif, sesuai dengan kondisi realitas dan dapat dibuktikan.
a.       Elemen-Elemen Teori
Di dalam sebuah teori terdapat beberapa elemen yang mengikutinya. Elemen tersebut berfungsi untuk mempersatukan variabel-variabel yang terdapat di dalam teori. Berikut adalah beberapa elemen-elemen teori:
1)      Konsep
Konsep merupakan sebuah ide yang diekspresikan dengan simbol atau kata. Konsep merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak suatu objek. Melalui konsep diharapkan akan dapat menyederhanakan pemikiran melalui sebuah istilah. Dalam ilmu alam konsep dapat diekspresikan dengan simbol-simbol seperti, ”∞” = tak terhingga, ”m”= Massa, dan lainya. Sementara itu, kebanyakan di dalam ilmu sosial konsep ini lebih diekspresikan dengan kata-kata tidak melalui simbol-simbol. Menurut Neuman (Kompilasi Mata Kuliah Filsafat Ilmu: 2012) kata-kata juga merupakan simbol karena bahasa itu sendiri adalah simbol. Karena mempelajari konsep dan teori seperti mempelajari bahasa. Konsep selalu ada di mana pun dan selalu kita gunakan. Misalnya kita membicarakan tentang pendidikan. Pendidikan merupakan suatu konsep, ia merupakan ide abstrak yang hanya di dalam pikiran kita saja.
2)      Scope
Elemen diatas membahas tentang konsep. Konsep ini ada yang bersifat abstrak dan bersifat kongkret. Teori dengan konsep-konsep yang abstrak dapat diaplikasikan terhadap fenomena sosial yang lebih luas, dibanding dengan teori yang memiliki konsep-konsep yang kongkret. Contohnya, teori yang diungkapkan oleh Lord Acton ”kekuasaan cenderung dikorupsikan”. Dalam hal ini kekuasaan dan korupsi ada pada lingkup yang abstrak. Kemudian kekuasaan ini dalam lingkup kongkret seperti presiden, jabatan pemerintah, dll, dan korupsi dalam lingkup kongkret seperti korupsi uang.
3)      Relationship
Teori merupakan sebuah relasi dari konsep-konsep atau secara lebih jelasnya teori merupakan bagaimana konsep-konsep berhubungan. Hubungan ini seperti pernyataan sebab-akibat (causal statement) atau proposisi. Proposisi adalah sebuah pernyataan teoritis yang memperincikan hubungan antara dua atau lebih variable, memberitahu kita bagaimana variasi dalam satu konsep dipertangggung jawabkan oleh variasi dalam konsep yang lain.


2.      Pengertial Ilmiah
Kata ilmiah bermakna ilmu pengetahuan atau sains  ( dalam kamus ilmiah popular (pius, dkk): 2001).  Pengetahuan ilmiah adalah  harus memiliki objek tertentu (formal dan material) dan  harus bersistem (runtut). Disamping itu, pengetahuan ilmiah harus memiliki metode tertentu dengan sifatnya yang umum. Metode itu meliputi metode deduksi, induksi dan analisis ( dalam Amsal Bakhitiar: 2007). Dalam  hal ini, ilmiah diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang memiliki objek tertentu (formal dan material) yang memiliki sistem dan memiliki metode tertentu dan memuat prinsip yang logis, sistematis dan  dapat dibuktikan.
3.      Pengertian Teori Ilmiah
Pengertian teori ilmiah bisa diartikan sebagai sebuah set proposisi yang terdiri dari konsep-konsep yang telah didefinisikan secara jelas. Selain itu, teori ilmiah adalah penjelasan  mengenai hubungan antar konsep atau variabel. Kemudian, teori ilmiah adalah penjelasan  mengenai fenomena-fenomena dengan cara menspesifikasikan hubungan antar variabel.
Teori ilmiah adalah suatu himpunan pengertian (contruct atau concept) yang saling berkaitan, batasan, serta proposisi yang menyajikan pandangan sistematis tentang gejala-gejala dengan jalan  menetapkan hubungan yang ada di antara variable-variabel, dan dengan tujuan untuk menjelaskan serta meramalkan gejala-gejala tersebut (Ary, et al, 2000: 36).
Teori ilmiah dalam sains adalah penjelasan atau model yang berbasiskan observasi, eksperimentasi dan nalar/pertimbangan, terutama ketika sesuatu sudah dites dan dikonfirmasi sebagai kaidah umum yang membantu menjelaskan dan memprediksi gejala alam (Willy Jansen: 2013).

B.     Dasar Teori Ilmiah
Ada tiga syarat utama  sebuah teori ilmiah: (1) harus konsisten dengan teori sebelumnya, (2) harus cocok dengan fakta-fakta empiris, (3) dapat mengganti teori lama yang tidak cocok dengan pengujian empiris dan fakta. (dalam Suwardi: 2012) Yang perlu ditegaskan yaitu istilah empiris, tidak selalu dimaknai lapangan. Empiris adalah fenomena yang teramati, boleh berupa teks-teks apa saja.
Empiris didukung oleh data, oleh sebab itu, teori merupakan akumulasi dari konsep keilmuan yang didukung  oleh data akurat. Teori tanpa disertai praktik, banyak disinyalir kurang begitu mudah dipertanggungjawabkan. Teori yang telah mapan tentu disertai praktik, sebaliknya, praktik tanpa teori memang dapat berjalan. Namun perjalanan praktik tersebut sering kurang terarah, jika tanpa ada teori yang mendasari. Oleh karena itu, sekecil apa pun praktik keilmuan tentu ada teori (Suwardi : 2012).
1.      Pandangan Mengenai Teori Ilmiah
Pandangan realisme tentang teori ilmiah, sebagaimana dinyatakan oleh salah satu tokohnya, yaitu Dalton (dalam Kuntjojo, 2010) adalah sebagai berikut:
a.       Teori ilmiah dapat dievaluasi berkenaan dengan kebenaran yang dikemukannya.
b.      Teori ilmiah memiliki tujuan untuk mencapai kebenaran atau sesuatu yang mendekati kebenaran.
c.       Keberhasilan teori ilmiah adalah bukti bahwa teori tersebut benar.
d.      Jika teori ilmiah benar, sesuatu yang tak dapat diobservasi disusun hipotesisnya sebagai sesuatu yang ada, dan
e.       Jika hal itu benar, teori ilmiah akan menjelaskan fenomena yang dapat diobservasi.

2.      Sifat Dasar Teori Ilmiah
a.       Teori ilmiah bukan suatu kesatuan doktrin
Teori ilmiah adalah sebuah istilah umum  yang mencakup jumlah teori spesifik, yang masing-masing memenuhi patokan–patokan dasar tertentu sampai ke suatu tingkat. Teori-teori itu tidak selalu  berkaitan. Artinya, teori-teori itu tidak selalu  bersama-sama membentuk kesatuan doktrin.
Pada tahap yang manapun dalam perkembangan, pengetahuan ilmiah itu terdiri atas sejumlah susunan teoritis pada tingkat kesempurnaan yang berbeda-beda. Tiap susunan tidak disangsikan lagi dan dipengaruhi oleh beberapa teori lainnya. Akan tetapi ia juga tidak tergantung kepada  banyak teori lainnya. Misalnya, sebuah teori tentang Fisika Nuklir mungkin tidak ada hubungannya  dengan teori tentang asal-usul  spesies atau tentang pembentukan gunung-gunung.
Proses alam dapat diteliti dalam kelompok-kelompok yang otonom, yang secara praktisnya tidak ada hubungannya satu sama lain, karenanya sudah dapat diperkirakan bahwa teori-teori ilmiah, yang merupakan  upaya untuk merumuskan secara rasional  cara kerjanya proses-proses itu, tidak akan  membentuk suatu keseluruhan yang organis, yang bagian-bagiannya tidak terpisahkan satu sama lain.
Anggapan bahwa segenap pengetahuan membentuk sebuah sistem dapat ditelusuri kembali kepada dua sumber. Keterarahan kepada ketertiban yang melekat pada manusia memaksanya untuk mencari kesatuan di tengah-tengah keanekaragaman. Dengan demikian dorongan yang menggerakkannya untuk melakukan penelitian ilmiah juga membuatnya mampu menyusun sebuah sistem pengetahuan yang tunggal, yang mempersatukan suatu nilai heuristic saja. Ia tidak perlu berhasil dalam semua kasus.
Kedua, yang melatarbelakangi pertumbuhan ilmu pengetahuan adalah sistem-sistem pemikiran yang universal. Sistem-sistem itu - misalnya sistem yang dibangun Hegal- berusaha menjelaskan setiap detail dari dunia yang nampak sebagai hasil yang memang sudah semestinya dari cara kerjanya beberapa biasanya satu atau dua, prinsip fundamental. Dalam upaya melawan sistem-sistem seperti itu, ada dorongan dan godaan bagi para ahli ilmu pengetahuan untuk menyusun sistem universal alternatif mereka masing-masing yang terlalu kuat untuk dilawan.
b.      Kesatuan ilmu, metodologis dan struktural
Jika pengetahuan ilmiah merupakan sejumlah teori yang spesifik, lalu apalagi yang bisa memberikan kesatuan kepada ilmu pengetahuan? Salah satu faktor pemersatu yang tidak disangsikan dari metode yang sampai tingkat-tingkat tertentu  adalah sama bagi semua cabang ilmu pengetahuan.  Faktor lainnya adalah kriteria yang harus dipenuhi oleh setip teori ilmiah juga sampai tingkat tertentu tergantung pada tahap perkembangan yang telah dicapai oleh penelitian mengenai pokok persoalannya. Penentuan-penetuan  itu memberikan kepada semua teori ilmiah suatu  kesatuan struktural, yang tidak terdapat pada teori-teori yang tidak ilmiah. Kesatuan itu akan menjadi semakin jelas dalam bagian selanjutnya dari bab ini.  Disini cukup dilukiskan secara garis besar  dengan memberi satu contoh.
Struktur teoritis ilmu pengetahuan fisika, kimia, geologi, biologi- mempunyai  suatu awal, tetapi tanpa akhir. Titik tolaknya adalah  seperangkat preposisi yang diandaikan benar tanpa bukti. Proposisi-proposisi yang dipakai sebagai titik tolak itu dinamakan postulat-postulat teori ilmiah yang bersangkutan.
Dari postulat-postulat itu dideduksikan, dengan metode-metode logika saja, sejumlah konklusi itu diverifikasi dengan fakta-fakta, yang dikatakan sebagai telah ’dijelaskan’ oleh teori. Akan tetapi diantara konklusi-konklusi yang diperoleh dari postulat-postulat itu ada yang mengacu kepada fakta-fakta yang belum diketahui. Konklusi-konklusi  itu dinamakan ramalan atau paska ramalan yang diuji dengan pengamatan berencana untuk menemukan fakta-fakta yang bersangkutan. Jika ramalan-ramalan itu cocok dengan fakta-fakta yang ditemukan dengan cara itu, maka postulat-postulatnya dianggap lebih dapat diandalkan dan teorinya dikatakan sebagai telah dibenarkan.
Konklusi-konkluasi yang dideduksikan dari postulat-postulat merupakan bagian tengah dari teori. Jika dikatakan bahwa teori ilmiah tidak punya akhir, dengan ini dimaksudkan bahwa tidak mungkin menentukan sebelumnya sebagaimana perkembangan suatu teori selanjutnya. Mungkin saja deduksi-deduksi baru dapat ditarik darinya, atau fakta-fakta baru ditentukan  sehingga dapat memperkaya suatu teori tanpa harus diadakan perubahan pada postulat-postulatnya. Suatu teori ilmiah dapat disamakan dengan sebuah gedung yang terbuka bagian atasnya dan ada kemungkinan untuk terus menambahkan sebuah tingkat baru padanya.
Misalnya, hukum-hukum  tentang  gerak  planet-planet  yang ditemukan oleh Kepler, teori tentang  gerak pasang air laut, gerak giroskop, teori tentang tekanan dan renggangan dalam sebuah benda kaku, teori balistik- yang diverifikasikan melalui pengamatan.
Namun demikian, selama teori Newton itu belum dimasukkan kedalam teori Einstein mengenai Relativitas, tidak mungkin mengatakan pada tahap yang mana pun bahwa pertumbuhannya telah berakhir. Sekarang akan dibahas secara lebih mendalam gambaran di atas dalam garis besarnya saja.

3.      Ciri Khusus Teori Ilmiah
Bill Newton-Smith (dalam Kuntjojo, 2010) telah mengidentifikasi 8 ciri teori ilmiah yang mampu digunakan untuk memberikan penjelasan dengan baik, yang bisa digunakan acuan dalam memilih suatu teori, yaitu:
a.       Observational nesting.
 Suatu teori seharusnya mempunyai paling tidak konsekuensi observasi  yang sama dengan teori-teori sebelumnya.
b.      Fertility
 Suatu teori seharusnya terbuka  untuk diuji dan dikembangkan.
c.       Track-record
Suatu teori hendaknya memiliki keberhasilan pada waktu-waktu  sebelumnya.
d.      Inter-theory support
Suatu teori seharusnya terintegrasi dan memberikan dukungan pada teori-teori lainnya.
e.       Smootness
Jika suatu teori tidak sesuai dengan fenomena yang dijelaskannya hendaknya terbuka untuk dilakukan perbaikan.
f.       Internal consistency
Suatu teori hendaknya memiliki konsistensi internal.
g.      Compaibility with well-grounded metaphysical beliefs
Suatu teori hendaknya konsisten dengan asumsiasumsi umum atau metafisis thenrtang dunia.

h.      Simplicity
Teori  yang simpel lebih baik dari pada teori  yang rumit.
Sebuah teori ilmiah merupakan satu hipotesis yang menghubungkan satu jenis fakta-fakta tertentu dengan jenis fakta lain dalam satu bentuk yang mempunyai hubungan kausal. Artinya, hipotesis itu harus memenuhi kedua syarat mendasar berikut:
a.       Semua menyatakan yang benar mengenai fakta-fakta yang telah diamati dapat dideduksi sebagai konsekuensi-konseukensi logis dari hipotesis.
b.      Ramalan atau paska ramalannya dapat dibuat dalam bentuk fenomen-fenomen yang bisa diamati, tetapi tidak ditekaui sebeumnya.
Kedua syarat dapat dipenuhi oleh teori yang sudah maju seperti teori Newton tentang  gravitasi universal, atau teori Maxwell tentang medan elektromagnetik. Tetapi, terdapat juga teori-teori ilmiah yang hanya dapat memenuhi satu saja dari kedua syarat  tanpa terlalu merugikan status ilmiahnya. Ada alasan-alasan yang kuat bagi pengecualian ini dalam kasus-kasus khusus. Di dalam kasus tertentu, sejumlah teori secara keseluruhan mungkin memenuhi kedua syarat itu, sementara itu tidak ada satupun diantaranya  yang dapat memenuhinya sendiri-sendiri. Misalnya, teori klasik tentang panas didasarkan pada postulat-postulat mekanika dan dapat menjelaskan bagian terbesar dari fenomen-fenomen yang berkaitan dengan manifestasi panas tanpa mengacu kepada apa pun  yang tidak termasuk sepenuhnya dalam bidang ini. akan tetapi, arus aliran listrik  yang berkaitan  dengan  adanya perbedaan suhu  antara dua titik sambungan  dalam suatu sirkuit tertutup tidak dapat dijelaskan, apalagi diramalkan dari  segi panas saja. Untuk itu orang perlu mengacu kepada teori tentang arus listrik.
Ia merupakan  suatu kesatuan yang organik, sebab teori-teori yang terpisah itu saling berhubungan dan semuanya dapat dideduksikan secara logis dari perangkat postulat-postulat yang sama. Ini berarti bahwa fisika klasik secara keseluruhan  merupakan sebuah teori yang berada pada tingkat yang berbeda dengan tingkat cabang-cabangnya yang mana pun. Mudah untuk dilihat bahwa tidak ada satu bagian individual pun yang dapat memenuhi syarat tertentu sebaik yang dapat dilakukan oleh keseluruhannya. Sebab itu sementara orang membahas sifat dasar teori ilmiah, ia perlu menyinggung  tingkat hirarkinya, walaupun  tidak secara eksplisit sekali pun.     Masih ada satu sebab lain yang lebih penting, mengapa suatu teori ilmiah tertentu tidak dapat memenuhi persyaratan pengujian yang dimaksudkan. Sebab ini juga berkaitan  dengan status hirarkis teori itu, tidak dalam hubungan dengan pokok materinya (misalnya panas dalam kaitannya dengan fisika klasik) melainkan dengan  tahap perkembangannya. Teori-teori  yang masih berada pada apa yang dinamakan tingkat sejarah alam mempunyai daya ramalan yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan yang sudah berada pada tingkat teori yang dirumuskan secara deduktif.
4.      Tahap-tahap perkembangan teori ilmiah
Penyelidikan ilmiah berawal dalam suatu situasi masalah dan berlang­sung melalui tahap –tahap berikut:
a.       memecah masalahnya menjadi bagian-bagian komponennya,
b.      mengumpulkan melalui pengamatan dan percobaan semua fakta yang digolong-golongkannya berdsarkan beberapa sifat yang sama,
c.       membuat sebuah hipotesis yang akan menjelaskan semua fakta yang telah diamati dan memecahkan situasi masalah,
d.      jika hipotesis itu memungkinkan, kemudian disusun  implikasi-implikasi logisnya untuk melakukan ramalan tentang fenomen-fenomen yang belum diketahui hingga saat itu
e.       menguji ramalan-ramalan itu dengan pengamatan.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
B.     Saran


DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar, Amsal. 2007. Filsafat Ilmu Edisi Revisi . Jakarta : PT. Raja grafindo.
Hamdani.2011.  Filsafat Sains. Bandung: Pustaka Setia.
Suwardi. 2012. Filsafat Ilmu. Endraswara Yogyakarta: CAPS.
Universitas Negeri Padang. 2012. Kompilasi Mata Kuliah  Filsafat Ilmu. Padang : UNP  
Partanto, Pius A dan M. Dahlan Al Barry. 2001. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya: Arkola
Teori ilmiah.http://www.referensimakalah.com/2012/08
Tim Redaksi. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional
Willy Jansen. 2013. “Apa Arti Teori Ilmiah? | Definisi Teori Ilmiah Dalam Sains (Disadur dari What is a Scientific Theory? oleh Kimm Ann Zimmerman, LiveScience” (online). http://www.willyjansen.com/blog/2013/07/08/apa-arti-teori-ilmiah-definisi-teori-ilmiah-dalam-sains/. Diakses pada tanggal 22-03-2014
Kuntjojo. 2010. “Filsafat Ilmu” (online). http://ebekunt.wordpress.com­/2010/08/30/filsafat-ilmu-diringkas-dari-buku-philosophy-of-science-karangan-john-bird/. Diakses pada tanggal 22-03-2014

0 comments:

Post a Comment